Survei Poltracking Indonesia
survei Poltracking Indonesia dalam hasil survei nasional terbarunya. Golkar hanya menempati posisi ketiga dengan 10,9 persen.
Bahkan kini, Partai Golkar disalip oleh Partai Gerindra di posisi kedua
dengan 13,
Partai Golkar Turun dengan elektabilitas 10,9. %. Disalip Gerindra di Posisi ke-2 Dengan 13,6. %
Senin 27 November 2017, 04:48 WIB
survei Poltracking Indonesia dalam hasil survei nasional terbarunya. Golkar hanya menempati posisi ketiga dengan 10,9 persen.
Bahkan kini, Partai Golkar disalip oleh Partai Gerindra di posisi kedua
dengan 13,
JAKARTA. RIAUMADANI. com - Elektabilitas Partai Golkar kembali menurun pasca mencuatnya kembali kasus korupsi e-KTP Setnov. Seperti diungkap oleh salah satu lembaga survei Poltracking Indonesia dalam hasil survei nasional terbarunya. Golkar hanya menempati posisi ketiga dengan 10,9 persen. Bahkan kini, Partai Golkar disalip oleh Partai Gerindra di posisi kedua dengan 13,6 persen.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha mengatakan, ada dua hal untuk membaca perubahan posisi ini. Yakni apakah memang kenaikan dari Partai Gerindra ataukah memang penurunan Partai Golkar.
"Gerindra mengalami insentif elektoral dari figur Prabowo. Nah, Golkar geser ketiga karena kenaikan Gerindra dan memang karena tren Golkar cenderung turun karena mengalami dinamika internal ketua umum, persoalan hukum itu jadi faktor," kata Hanta dalam rilis hasil survei Poltracking Indonesia di Sari Pan Pasific, Jakarta, Ahad (26/11/2017) sebagaimana dilansir dari republika.co.id.
Meski ia meyakini persoalan hukum Novanto bukan satu-satunya faktor yang membuat elektabilitas partai beringin itu kembali merosot, paling tidak menjadi salah satu penyumbang terbesar. Ia melanjutkan, memang Partai Golkar bukan partai yang bergantung pada sosok figur tertentu.
"Tapi pada isu bersih antikorupsi, ini ketua umum, ini simbol. Kalau ada kader Partai Golkar tersangkut kasus mungkin publik pemaklumannya tinggi, tapi ini simbol ketua umum jadi beri dampak, secara elektoral maka kasus ini jadi beban elektoral bagi Golkar, menganggu citra publik," kata Hanta.
Selain itu, penurunan ini juga justru merugikan dan membahayakan bagi internal Partai Golkar untuk pemilu mendatang.
Survei dilakukan terhadap 2.400 responden yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi selama 8 hingga 15 November 2017. Survei dilakukan menggunakan metode stratified multistage and sampling dengan margin of error kurang lebih dua persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, partainya tidak memanfaatkan situasi Setya Novanto untuk menarik kepercayaan terhadap partainya. "Survei ini kalau kita tidak keliru dilakukan sebelum kasus Pak Novanto. Jadi, sebelum Novanto ditetapkan KPK, survei ini sudah berlangsung. Sehingga, saya kira tidak relevan kalau mengaitkan masalah yang menimpa Golkar kemudian jadi kepercayaan yang berlimpah ke Gerindra," kata Ahmad.
Dia menuturkan, bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap Gerindra itu karena konsep-konsep yang ditawarkan. Begitu pula dengan jalan keluar dalam pengelolaan keuangan dan aset negara terhadap kesulitan yang dihadapi oleh rakyat.
Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid mengatakan, tidak ada pilihan bagi Partai Golkar kecuali untuk melaksanakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) pergantian ketua umum. Hal ini diungkapkan Nurdin menyusul terus merosotnya elektabilitas Partai Golkar, seperti hasil survei nasional terbaru oleh Poltracking Indonesia.
Meskipun pada akhirnya Nurdin mengakui, rencana munaslub sesuai dengan keputusan rapat pleno Partai Golkar baru dilakukan pascaputusan praperadilan Setya Novanto.
"Tetap (menunggu praperadilan), tapi maksudnya baik praperadilan diterima atau tidak diterima, harusnya dengan melihat elektabilitas Partai Golkar yang terus menurun, maka tidak ada pilihan kecuali mencari pemimpin baru untuk meningkatkan kinerja partai," ujar Nurdin usai menghadiri rilis hasil survei Poltracking Indonesia di Sari Pan Pasific, Jakarta, Minggu kemarin. (RLS)
Elektabilitas Partai Saat Ini:
1. PDIP: 23,4%
2. Gerindra: 13,6%
3. Golkar: 10,9%
4. PKB: 5,1%
5. Demokrat: 4,2%
6. Nasdem: 3,0%
7. PKS: 2,6%
8.PAN: 2,1%
9. PPP: 2,1%
10. Perindo: 1,3%
11. Hanura: 0,7%
12. PSI: 0,7%
Sumber: Poltracking
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yudha mengatakan, ada dua hal untuk membaca perubahan posisi ini. Yakni apakah memang kenaikan dari Partai Gerindra ataukah memang penurunan Partai Golkar.
"Gerindra mengalami insentif elektoral dari figur Prabowo. Nah, Golkar geser ketiga karena kenaikan Gerindra dan memang karena tren Golkar cenderung turun karena mengalami dinamika internal ketua umum, persoalan hukum itu jadi faktor," kata Hanta dalam rilis hasil survei Poltracking Indonesia di Sari Pan Pasific, Jakarta, Ahad (26/11/2017) sebagaimana dilansir dari republika.co.id.
Meski ia meyakini persoalan hukum Novanto bukan satu-satunya faktor yang membuat elektabilitas partai beringin itu kembali merosot, paling tidak menjadi salah satu penyumbang terbesar. Ia melanjutkan, memang Partai Golkar bukan partai yang bergantung pada sosok figur tertentu.
"Tapi pada isu bersih antikorupsi, ini ketua umum, ini simbol. Kalau ada kader Partai Golkar tersangkut kasus mungkin publik pemaklumannya tinggi, tapi ini simbol ketua umum jadi beri dampak, secara elektoral maka kasus ini jadi beban elektoral bagi Golkar, menganggu citra publik," kata Hanta.
Selain itu, penurunan ini juga justru merugikan dan membahayakan bagi internal Partai Golkar untuk pemilu mendatang.
Survei dilakukan terhadap 2.400 responden yang tersebar secara proporsional di 34 provinsi selama 8 hingga 15 November 2017. Survei dilakukan menggunakan metode stratified multistage and sampling dengan margin of error kurang lebih dua persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengatakan, partainya tidak memanfaatkan situasi Setya Novanto untuk menarik kepercayaan terhadap partainya. "Survei ini kalau kita tidak keliru dilakukan sebelum kasus Pak Novanto. Jadi, sebelum Novanto ditetapkan KPK, survei ini sudah berlangsung. Sehingga, saya kira tidak relevan kalau mengaitkan masalah yang menimpa Golkar kemudian jadi kepercayaan yang berlimpah ke Gerindra," kata Ahmad.
Dia menuturkan, bertambahnya kepercayaan masyarakat terhadap Gerindra itu karena konsep-konsep yang ditawarkan. Begitu pula dengan jalan keluar dalam pengelolaan keuangan dan aset negara terhadap kesulitan yang dihadapi oleh rakyat.
Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid mengatakan, tidak ada pilihan bagi Partai Golkar kecuali untuk melaksanakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) pergantian ketua umum. Hal ini diungkapkan Nurdin menyusul terus merosotnya elektabilitas Partai Golkar, seperti hasil survei nasional terbaru oleh Poltracking Indonesia.
Meskipun pada akhirnya Nurdin mengakui, rencana munaslub sesuai dengan keputusan rapat pleno Partai Golkar baru dilakukan pascaputusan praperadilan Setya Novanto.
"Tetap (menunggu praperadilan), tapi maksudnya baik praperadilan diterima atau tidak diterima, harusnya dengan melihat elektabilitas Partai Golkar yang terus menurun, maka tidak ada pilihan kecuali mencari pemimpin baru untuk meningkatkan kinerja partai," ujar Nurdin usai menghadiri rilis hasil survei Poltracking Indonesia di Sari Pan Pasific, Jakarta, Minggu kemarin. (RLS)
Elektabilitas Partai Saat Ini:
1. PDIP: 23,4%
2. Gerindra: 13,6%
3. Golkar: 10,9%
4. PKB: 5,1%
5. Demokrat: 4,2%
6. Nasdem: 3,0%
7. PKS: 2,6%
8.PAN: 2,1%
9. PPP: 2,1%
10. Perindo: 1,3%
11. Hanura: 0,7%
12. PSI: 0,7%
Sumber: Poltracking
| Editor | : | TIS-Rls |
| Kategori | : | Politik |
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
Berita Pilihan
Internasional

Minggu 07 September 2025, 20:18 WIB
Timnas Indonesia U-23 Wajib Kalahkan Korea Selatan Untuk lolos ke Putaran Final Piala Asia U-23 2025
Rabu 09 Juli 2025
PKB Gelar Puncak Harlah 23 Juli, Undang Prabowo hingga Ketum Partai
Rabu 11 Juni 2025
Arab Saudi Tegur Indonesia soal Data Kesehatan Jemaah, Kuota Haji 2026 Terancam Dipotong
Kamis 08 Mei 2025
"Jelang Kedatangan Jemaah, Petugas Siapkan Layanan di Makkah"
Politik

Selasa 13 Januari 2026, 07:13 WIB
Penduduk Riau Berjumlah 6,81 Juta Jiwa, Kota Pekanbaru Wilayah Terpadat
Selasa 13 Januari 2026
Bupati Kasmarni: OPD Harus Transparan Dalam Menggnakan Anggaran dan Komitmen Dalam Pelayanan Publik
Selasa 06 Januari 2026
Bupati Siak Ajak ASN Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan Publik Tahun 2026
Senin 05 Januari 2026
SF Hariyanto: Kami Minta PT. SPR Adakan RUPS LB Copot Direkturnya 
Nasional

Senin 12 Januari 2026, 14:27 WIB
Tari Zapin khas Desa Meskom Pecahkan Rekor MURI Tari Zapin Massal Berkebaya Laboh Kekek
Senin 12 Januari 2026
Tari Zapin khas Desa Meskom Pecahkan Rekor MURI Tari Zapin Massal Berkebaya Laboh Kekek
Sabtu 10 Januari 2026
KPK Penetapan Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas Sebagai Tersangka Didasari Kecukupan Alat Bukti
Selasa 16 Desember 2025
Mafirion, "Apresiasi PN Tembilahan Kabulkan Tahanan Kota Datuk Bahar Kamil"
Terpopuler
01
Minggu 07 Agustus 2016, 07:47 WIB
Ribuan Personel Keamanan Diterjunkan Kawal Kirab Api PON 2016 Selama 11 Har 02
Rabu 17 September 2014, 02:20 WIB
Pemkab Pelalawan Kembangkan Pembibitan Ikan Secara Modern 03
Sabtu 25 April 2015, 04:51 WIB
10 Pejabat Kedubes Asing Dipanggil ke Nusakambangan 04
Selasa 09 Februari 2016, 01:21 WIB
LSM Laporkan Satker SNVT.Dedi dan PPK, Rukun dan Irzami Ke KPK 05
Rabu 25 Juni 2014, 05:20 WIB
Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Klarifikasi Harta ke KPK 

Pekanbaru

Sabtu 24 Januari 2026, 07:04 WIB
Pemprov Riau Resmi Copot Ida Yulita dari Jabatan Direktur PT SPR Tunjuk Yan Darmadi Sebagai Pelaksana Tugas
Sabtu 24 Januari 2026
Pemprov Riau Resmi Copot Ida Yulita dari Jabatan Direktur PT SPR Tunjuk Yan Darmadi Sebagai Pelaksana Tugas
Sabtu 24 Januari 2026
RUPS-LB PT SPR Ricuh, Boby Rahmat Sebut Direktur PT. SPR Ida Yulita Susanti Rampas Dokumen dan Usir Peserta Rapat
Sabtu 24 Januari 2026
RUPS-LB PT SPR Ricuh, Jajaran Direksi Tolak Legalitas Surat Kuasa Pemegang Saham