Anggaran DPRD Riau
Uang Perjalanan Dinas Anggota DPRD Riau Rp 213,56 miliar untuk 65 orang anggota
DPRD Riau setiap tahun kebagian dana Rp 3,28 miliar atau Rp 273,80 juta
per bulan atau Rp 9,12 juta per hari. Wakil rakyat di DPRD Riau memang
tidak
Anggaran Perjalanan Dinas DPRD Riau Capai Rp 213,56 Miliar Pertahun
Selasa 11 April 2017, 23:15 WIB
Uang Perjalanan Dinas Anggota DPRD Riau Rp 213,56 miliar untuk 65 orang anggota
DPRD Riau setiap tahun kebagian dana Rp 3,28 miliar atau Rp 273,80 juta
per bulan atau Rp 9,12 juta per hari. Wakil rakyat di DPRD Riau memang
tidak
PEKANBARU, RIAUMADANI. com - Lesunya perekonomian membuat banyak daerah memangkas angaran, termasuk di Riau. Namun begitu, dari penelitian Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau, pemborosan anggaran masih saja terjadi.
Yang cukup mencengangkan adalah terdapat sekitar Rp 1,3 triliun pemborosan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Riau 2017. Itu lebih dari sepuluh persen dari total dana APBD tahun ini yang besarnya mencapai Rp 11 triliun.
"Kita apresiasi ada efisiensi di 2017. Namun masih banyak yang mesti harus diefisiensikan. Kalau tidak percaya, silakan cek DPA (dokumen pelaksanaan anggaran) SKPD per item kegiatan. Dipastikan, dalam DPA tersebut masih banyak anggaran yang mestinya tidak perlu dikeluarkan," ujar peneliti FITRA Riau Triono Hadi kepada Tribun pekan lalu.
Dia melanjutkan, setiap DPA ada kegiatan perjalanan dinas yang melibatkan banyak sekali orang. Juga ada kegiatan dengan honor-honor yang mestinya dapat dihapus karena Riau sudah menerapkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
"Contoh riil lain pemborosan anggaran seperti pengadaan jasa keamanan gedung DPRD Riau. Yang mencapai Rp 5,6 miliar. Meski pun berdasarkan aturan dibolehkan, pertanyaannya adalah apakah wajar dan efisien anggaran tersebut?" ungkapnya.
Sementara di Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Triono mencontohkan anggaran untuk penggandaan dan pencetakan yang lebih dari Rp 50 miliar per tahun. Untuk satu item saja, yakni pembelian kertas HVS, yang kalau dilakukan efisiensi, bisa menghemat Rp 240 juta.
“Bahkan lebih besar dari itu. Itu juga dapat dilakukan pada item anggaran yang lain," jelas Triono.
Salah satu yang paling disorot adalah anggaran perjalanan dinas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau. Angkanya terus meningkat setiap tahun, akan tetapi tidak sebanding produk legislasi yang dihasilkan.
Berdasar penelitian FITRA Riau, total anggaran untuk perjalanan dinas wakil rakyat Riau tahun ini adalah Rp 213,56 miliar.
Terdiri dari biaya kunjungan kerja pimpinan dan anggota dewan, kunjungan kerja alat kelengkapan dewan (AKD), kunjungan luar negeri pimpinan dan anggota dewan, reses, program legislasi daerah, penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) inisiatif dewan, pembahasan Ranperda, pembahasan Perda APBD.
Kalau dirinci lagi, dari angka Rp 213,56 miliar itu, masing-masing dari 65 orang anggota DPRD Riau setiap tahun kebagian dana Rp 3,28 miliar atau Rp 273,80 juta per bulan atau Rp 9,12 juta per hari. Wakil rakyat di DPRD Riau memang tidak pergi setiap hari.
Namun setidaknya mereka selalu menggunakan dua hari kerja dalam seminggu, yakni hari Selasa dan Jumat. Dua hari tersebut, gedung wakil rakyat Riau di Jl Jenderal Sudirman, Pekanbaru, biasanya sepi.
Kalau pun ada kegiatan rapat paripurna, biasanya di luar dua hari tersebut. Beragam kegiatan perjalanan dinas yang dilakukan, seperti studi banding dan konsultasi ke kementerian mengenai pembahasan Perda.
Tolak ukur kinerja wakil rakyat salah satunya yang utama adalah Program Legislasi Daerah (Prolegda). Sayangnya, itu minim. Sebut saja pada 2016 lalu, dari target 30 Ranperda, hanya delapan yang tuntas dibahas dan dijadikan Perda.
Usman, Koordinator Fitra Riau, mengatakan pihaknya mengkritisi kinerja DPRD Riau tersebut.
"Kami sayangkan lemahnya kinerja DPRD dari tahun ke tahun, terkait fungsinya sebagai legislator. Seharusnya pekerjaan yang mereka hasilkan sebanding dengan anggaran yang mereka gunakan," kata Usman kepada Tribun, pekan lalu.
Dikatakan Usman, sebenarnya tidak ada persoalan kalau wakil rakyat membutuhkan anggaran yang besar untuk legislasi. Tapi jangan sampai produk yang dihasilkan tidak berkualitas dan kuantitasnya pun minim.
"Tentu ini akan merugikan banyak hal, terutama terkait uang rakyat yang sudah dikeluarkan untuk biaya perjalanan dinas mereka. Hasil produk hukum yang disahkan setiap tahun tidak sebanding dengan anggaran perjalanan dinas mereka dari tahun ke tahun," ulas Usman.
Oleh karena itu, menurut Usman, harus ada evaluasi. Baik itu kinerja wakil rakyat dan juga anggaran mereka. Jangan sampai mubazir anggaran.
Selain itu, Pemprov Riau harus melakukan mempertimbangkan apa saja Ranperda yang penting dibahas dan disahkan. Kalau tidak penting-penting amat, tak usah begitu banyak rancangan peraturan daerah diusulkan ke dewan.
"Mereka harus mengevaluasi perjalanan dinas DPRD Riau dari tahun ke tahun. Jangan mubazir. Jangan menabur garam di laut. Selama ini yang terjadi seperti itu, anggaran yang dikeluarkan besar, tapi hasilnya tak sepadan. Masyarakat juga tidak tahu Perda apa yang mereka hasilkan setiap tahun,†kata dia.
“Kalau memang dirasa tak perlu atau tak sanggup membahas dan mengesahkannya, tidak usah direncanakan," imbuhnya.
Usman secara khusus menyoroti perjalanan dinas wakil rakyat ke luar negeri.
"Keluar negeri itu kerap cuma alasan. Seharusnya, penganggaran kunjungan ke luar negeri itu dilakukan hanya untuk cadangan, kalau-kalau ada keperluan atau ada undangan yang wajib dihadiri. Tapi yang terjadi pada penganggaran kita, biaya perjalanan dinas ke luar negeri dianggarkan tanpa melihat urgensinya. Akhirnya, mau tak mau anggaran tersebut tetap digunakan," ungkapnya.
Berikut Rincian Anggaran Perjalanan Dinas DPRD Riau 2017:
Kunjungan kerja (kunker) pimpinan dan anggota dewan Rp 56,86 miliar
Kunker alat kelengkapan dewan Rp 58,58 miliar
Kunjungan luar negeri pimpinan dan anggota dewan Rp 28,37 miliar
Reses Rp 30,45 miliar
Pembahasan Ranperda Rp 11,26 miliar
Penyusunan Ranperda inisiatif DPRD Rp 12,02 miliar
Program legislasi daerah Rp 6,48 miliar
Pembahasan Perda APBD Rp 9,01 miliar
Yang cukup mencengangkan adalah terdapat sekitar Rp 1,3 triliun pemborosan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) Riau 2017. Itu lebih dari sepuluh persen dari total dana APBD tahun ini yang besarnya mencapai Rp 11 triliun.
"Kita apresiasi ada efisiensi di 2017. Namun masih banyak yang mesti harus diefisiensikan. Kalau tidak percaya, silakan cek DPA (dokumen pelaksanaan anggaran) SKPD per item kegiatan. Dipastikan, dalam DPA tersebut masih banyak anggaran yang mestinya tidak perlu dikeluarkan," ujar peneliti FITRA Riau Triono Hadi kepada Tribun pekan lalu.
Dia melanjutkan, setiap DPA ada kegiatan perjalanan dinas yang melibatkan banyak sekali orang. Juga ada kegiatan dengan honor-honor yang mestinya dapat dihapus karena Riau sudah menerapkan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
"Contoh riil lain pemborosan anggaran seperti pengadaan jasa keamanan gedung DPRD Riau. Yang mencapai Rp 5,6 miliar. Meski pun berdasarkan aturan dibolehkan, pertanyaannya adalah apakah wajar dan efisien anggaran tersebut?" ungkapnya.
Sementara di Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Triono mencontohkan anggaran untuk penggandaan dan pencetakan yang lebih dari Rp 50 miliar per tahun. Untuk satu item saja, yakni pembelian kertas HVS, yang kalau dilakukan efisiensi, bisa menghemat Rp 240 juta.
“Bahkan lebih besar dari itu. Itu juga dapat dilakukan pada item anggaran yang lain," jelas Triono.
Salah satu yang paling disorot adalah anggaran perjalanan dinas Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau. Angkanya terus meningkat setiap tahun, akan tetapi tidak sebanding produk legislasi yang dihasilkan.
Berdasar penelitian FITRA Riau, total anggaran untuk perjalanan dinas wakil rakyat Riau tahun ini adalah Rp 213,56 miliar.
Terdiri dari biaya kunjungan kerja pimpinan dan anggota dewan, kunjungan kerja alat kelengkapan dewan (AKD), kunjungan luar negeri pimpinan dan anggota dewan, reses, program legislasi daerah, penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) inisiatif dewan, pembahasan Ranperda, pembahasan Perda APBD.
Kalau dirinci lagi, dari angka Rp 213,56 miliar itu, masing-masing dari 65 orang anggota DPRD Riau setiap tahun kebagian dana Rp 3,28 miliar atau Rp 273,80 juta per bulan atau Rp 9,12 juta per hari. Wakil rakyat di DPRD Riau memang tidak pergi setiap hari.
Namun setidaknya mereka selalu menggunakan dua hari kerja dalam seminggu, yakni hari Selasa dan Jumat. Dua hari tersebut, gedung wakil rakyat Riau di Jl Jenderal Sudirman, Pekanbaru, biasanya sepi.
Kalau pun ada kegiatan rapat paripurna, biasanya di luar dua hari tersebut. Beragam kegiatan perjalanan dinas yang dilakukan, seperti studi banding dan konsultasi ke kementerian mengenai pembahasan Perda.
Tolak ukur kinerja wakil rakyat salah satunya yang utama adalah Program Legislasi Daerah (Prolegda). Sayangnya, itu minim. Sebut saja pada 2016 lalu, dari target 30 Ranperda, hanya delapan yang tuntas dibahas dan dijadikan Perda.
Usman, Koordinator Fitra Riau, mengatakan pihaknya mengkritisi kinerja DPRD Riau tersebut.
"Kami sayangkan lemahnya kinerja DPRD dari tahun ke tahun, terkait fungsinya sebagai legislator. Seharusnya pekerjaan yang mereka hasilkan sebanding dengan anggaran yang mereka gunakan," kata Usman kepada Tribun, pekan lalu.
Dikatakan Usman, sebenarnya tidak ada persoalan kalau wakil rakyat membutuhkan anggaran yang besar untuk legislasi. Tapi jangan sampai produk yang dihasilkan tidak berkualitas dan kuantitasnya pun minim.
"Tentu ini akan merugikan banyak hal, terutama terkait uang rakyat yang sudah dikeluarkan untuk biaya perjalanan dinas mereka. Hasil produk hukum yang disahkan setiap tahun tidak sebanding dengan anggaran perjalanan dinas mereka dari tahun ke tahun," ulas Usman.
Oleh karena itu, menurut Usman, harus ada evaluasi. Baik itu kinerja wakil rakyat dan juga anggaran mereka. Jangan sampai mubazir anggaran.
Selain itu, Pemprov Riau harus melakukan mempertimbangkan apa saja Ranperda yang penting dibahas dan disahkan. Kalau tidak penting-penting amat, tak usah begitu banyak rancangan peraturan daerah diusulkan ke dewan.
"Mereka harus mengevaluasi perjalanan dinas DPRD Riau dari tahun ke tahun. Jangan mubazir. Jangan menabur garam di laut. Selama ini yang terjadi seperti itu, anggaran yang dikeluarkan besar, tapi hasilnya tak sepadan. Masyarakat juga tidak tahu Perda apa yang mereka hasilkan setiap tahun,†kata dia.
“Kalau memang dirasa tak perlu atau tak sanggup membahas dan mengesahkannya, tidak usah direncanakan," imbuhnya.
Usman secara khusus menyoroti perjalanan dinas wakil rakyat ke luar negeri.
"Keluar negeri itu kerap cuma alasan. Seharusnya, penganggaran kunjungan ke luar negeri itu dilakukan hanya untuk cadangan, kalau-kalau ada keperluan atau ada undangan yang wajib dihadiri. Tapi yang terjadi pada penganggaran kita, biaya perjalanan dinas ke luar negeri dianggarkan tanpa melihat urgensinya. Akhirnya, mau tak mau anggaran tersebut tetap digunakan," ungkapnya.
Berikut Rincian Anggaran Perjalanan Dinas DPRD Riau 2017:
Kunjungan kerja (kunker) pimpinan dan anggota dewan Rp 56,86 miliar
Kunker alat kelengkapan dewan Rp 58,58 miliar
Kunjungan luar negeri pimpinan dan anggota dewan Rp 28,37 miliar
Reses Rp 30,45 miliar
Pembahasan Ranperda Rp 11,26 miliar
Penyusunan Ranperda inisiatif DPRD Rp 12,02 miliar
Program legislasi daerah Rp 6,48 miliar
Pembahasan Perda APBD Rp 9,01 miliar
| Editor | : | Tis-Rp |
| Kategori | : | Pekanbaru |
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
Berita Pilihan
Internasional

Senin 20 Juli 2026, 06:13 WIB
Spanyol Juara Piala Dunia 2026 usai Tumbangkan Argentina di Final, Akhiri Penantian 16 Tahun
Minggu 08 Februari 2026
Timnas Indonesia Jadi Runner-up Piala Asia Futsal 2026, Kalah Adu Penalti Lawan Iran
Minggu 07 September 2025
Timnas Indonesia U-23 Wajib Kalahkan Korea Selatan Untuk lolos ke Putaran Final Piala Asia U-23 2025
Rabu 09 Juli 2025
PKB Gelar Puncak Harlah 23 Juli, Undang Prabowo hingga Ketum Partai
Politik

Rabu 15 Juli 2026, 19:28 WIB
Kodam XIX Tuanku Tambusai Luncurkan TMMD Ke-129, Wujudkan Infrastruktur dan Ketahanan Wilayah di Pelalawan
Selasa 14 Juli 2026
Diduga Lahan 40 Hektare Berpindah Tangan Secara Misterius, Forkorindo Desak APH Bongkar Dugaan Mafia Tanah di Kampung Dosan
Senin 29 Juni 2026
Bangunan Ornamen Wisma Sri Mahkota, Stand Bazar Bengkalis Jadi Perhatian di MTQ Riau ke- 44 Tahun 2026
Minggu 28 Juni 2026
Kapal Harimau Buas Meriahkan Pawai Perahu Hias MTQ Riau, Angkat Spirit Al-Qur'an dalam Perjuangan Sultan Siak
Nasional

Rabu 15 Juli 2026, 19:14 WIB
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Rabu 15 Juli 2026
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Senin 13 Juli 2026
Febrie Adriansyah Resmi Berstatus Tersangka di Tiga Kasus Korupsi, Kortas Tipidkor Limpahkan Penyidikan ke Kejagung
Jumat 10 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Gelar Laporan Awal, Satgasyon 132/Bima Sakti 2026 Dinyatakan Siap Operasi
Terpopuler
01
Minggu 07 Agustus 2016, 07:47 WIB
Ribuan Personel Keamanan Diterjunkan Kawal Kirab Api PON 2016 Selama 11 Har 02
Rabu 17 September 2014, 02:20 WIB
Pemkab Pelalawan Kembangkan Pembibitan Ikan Secara Modern 03
Sabtu 25 April 2015, 04:51 WIB
10 Pejabat Kedubes Asing Dipanggil ke Nusakambangan 04
Selasa 09 Februari 2016, 01:21 WIB
LSM Laporkan Satker SNVT.Dedi dan PPK, Rukun dan Irzami Ke KPK 05
Rabu 25 Juni 2014, 05:20 WIB
Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Klarifikasi Harta ke KPK 

Pekanbaru

Senin 20 Juli 2026, 20:14 WIB
Pangdam Kodam XIX Tuanku Tambusai Semarakkan Penutupan Festival Rakyat Nusantara 2026 Dengan Nobar Final Piala Dunia Bersama Masyarakat
Senin 20 Juli 2026
Pangdam Kodam XIX Tuanku Tambusai Semarakkan Penutupan Festival Rakyat Nusantara 2026 Dengan Nobar Final Piala Dunia Bersama Masyarakat
Minggu 19 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Dukung Green Policing, Riau Bhayangkara Run 2026 Satukan TNI, Polri dan Masyarakat
Jumat 17 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Perkuat Disiplin dan Jiwa Pengabdian Melalui Upacara Bendera Bulanan