Seribu surat undangan yang disebar hanya menjadi kenangan
Pelaminan Jadi Saksi Bisu, Kebahagiaan Sirna di Hantam Gempa
Pelaminan Jadi Saksi Bisu, Kebahagiaan Sirna di Hantam Gempa
Jumat 09 Desember 2016, 23:47 WIB
Pelaminan Jadi Saksi Bisu, Kebahagiaan Sirna di Hantam GempaBANDA ACEH. Riaumadani. com - BADANNYA terbujur kaku dan diselimuti kain merah jambu. Matanya tertutup rapat, sama sekali tak mau melihat orang orang di sekitar. Hanya sesekali ia terbelalak, menatap hampa langit-langit dan dinding kamar. Dari raut wajahnya, wanita itu tampak sedang menanggung beban kesedihan yang teramat sangat, tak ada sepatah kata pun, juga gelak tawa.
Yusra Fitriani (31), wanita yang sedianya kemarin menerima janji suci dari seorang pemuda yang jadi pujaan hatinya bernama Suharnas (31). Namun, rencana bahagia itu tidak terwujud. Pemuda yang akan memperistrinya tiba-tiba saja pergi meninggalkan Fitri, panggilan Yusra Fitriani untuk selama-lamanya.
Suharnas dipanggil Sang Khalik dalam musibah gempa berkekuatan 6,4 skala Richter (SR) yang mengguncang kawasan Pidie Jaya sekitarnya, Rabu (7/12) menjelang subuh. Suharnas meninggal akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah toko (ruko) miliknya di pusat kota Meureudu, akibat gempa yang menghentak pagi buta itu.
Kemarin, Kamis (8/12), Serambi kembali menyambangi rumah Fitri di Desa Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Suasana duka terlihat menyelimuti rumah itu, semestinya kemarin pesta bahagia digelar di sana, orang-orang seharusnya berdatangan memberi selamat dan kado pernikahan kepada Fitri dan Suharnas. Keduanya akan menjadi raja dan ratu sehari dalam momen paling bahagia setiap insan.
Susana berubah, tak ada yang datang. Seribu surat undangan yang disebar hanya menjadi kenangan. Pelaminan yang telah disiapkan tak ada yang tempati, bagai ''menangis'' sendiri. Dekorasi hanya jadi hiasan, orang-orang duduk di luar dengan raut wajah murung. Semuanya bersedih, pesta bahagia itu urung terlaksana, karena Allah telah berkehendak lain.
Biasanya, pelaminan itu akan menjadi singgasana raja dan ratu sehari. Para tamu yang datang penuh ceria dengan pakai khusus untuk hari H. Mereka akan berebutan dan rela antrean untuk bisa berfoto. Demi momen bahagia bersama sang raja dan ratu. Tapi suasana itu tak ada, semua sudah diliputi duka mendalam. Beberapa keluarga dekat yang datang untuk melihat kondisi Fitri tak bisa menyembunyikan kesedihannya menatap pelaminan kosong. Pelaminan yang sepi sendiri.
Di dalam kamar, Fitri ditemani ibu kandungnya, Rajiati (sebelumnya tertulis Rajati-red) bersama dua saudaranya. Raut wajah sedih terlihat menyaksikan Fitri tertidur lemas di atas ranjang. Ranjang itu semestinya dipersiapkan untuk dia dan Suharnas selaku pengantin baru. Ia sama sekali tak bicara, wajahnya pucat.
Menurut sang ibu, Fitri sudah terbaring di ranjang itu sejak Rabu malam. ''Sudah dari tadi malam dia begini terus. Tadi pagi ada bangun sebentar habis itu tidur begini lagi dan tidak mau bicara. Makan juga nggak mau, tadi cuma air gula yang ada dia minum,'' kata Rajiati, saat Serambi yang masuk ke dalam kamar melihat Fitri ditemani anggota keluarganya.
Beberapa kali Serambi mencoba bertanya kepada Fitiri, namun tak ia tanggapi. Fitriani membisu, diam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi menanggung sedih tak terperikan. Namun, tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Air matanya seperti sudah kering, tak ada lagi linangan, meski ia begitu berat menanggung kesedihan. Fitri tak sanggup lagi menangis dan berkata-kata tentang cobaan yang mendera dirinya pada hari seharusnya ia paling bahagia.
''Kak Fitri, kak Fitriani, boleh kami bertanya sesuatu?,'' tanya Serambi pelan. Ia kemudian mengangguk sambil melihat dengan tatapan hampa. ''Kak Fitri, adakah doa yang mau Kakak panjatkan hari ini,'' tanya Serambi kembali.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Fitri langsung menangis dan menutup mukanya dengan selimut. ''Kajeut Neuk beuh, bek le tatanyoeng sapeu. (Sudah Nak ya, jangan tanya lagi apa pun),'' kata salah seorang famili Fitri sambil mengusap pipi dan kepala Fitri. Serambi pun langsung ke luar dan menyudahi wawancara tersebut.
M Yunus, ayah Fitri mengatakan, saat ini dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan kesedihan anaknya. Ia tak menampik bahwa kesedihan yang mendera putri pertamanya itu sulit dipulihkan dalam waktu dekat. ''Hanya ada dua cara untuk menyembuhkan kesedihannya ini, pertama baca Alquran kedua shalat. Mungkin itu cara paling ampuh untuk menyembuhkan kesedihannya,'' ucap M Yunus.
Sama seperti keterangan Rajiati, istrinya kepada Serambi sebelumnya, bahwa rencana resepsi kemarin sudah dipersiapkan jauh jauh hari. Sedikitnya, 1.000 undangan telah dikabari untuk menghadiri hajatan putrinya kemarin. ''Ini kehendak Allah, ini cobaan bagi kami. Semoga di balik ini semua ada hikmahnya,'' pungkas M Yunus.
Kini Fitria harus menanggung beban dan berjuang menghapus luka mendalam di hatinya. Air mata duka bakal butuh waktu untuk membendungnya meski pelaminan akan dibongkar sebentar lagi. Harapan hidup bersama dengan Suharnas sudah sirna. Fitri hanya bisa pasrah atas musibah yang menjadi kehendak Ilahi. Mungkin Tuhan punya rencana lain.(serambi Indonesia)
Yusra Fitriani (31), wanita yang sedianya kemarin menerima janji suci dari seorang pemuda yang jadi pujaan hatinya bernama Suharnas (31). Namun, rencana bahagia itu tidak terwujud. Pemuda yang akan memperistrinya tiba-tiba saja pergi meninggalkan Fitri, panggilan Yusra Fitriani untuk selama-lamanya.
Suharnas dipanggil Sang Khalik dalam musibah gempa berkekuatan 6,4 skala Richter (SR) yang mengguncang kawasan Pidie Jaya sekitarnya, Rabu (7/12) menjelang subuh. Suharnas meninggal akibat tertimbun reruntuhan bangunan rumah toko (ruko) miliknya di pusat kota Meureudu, akibat gempa yang menghentak pagi buta itu.
Kemarin, Kamis (8/12), Serambi kembali menyambangi rumah Fitri di Desa Dayah Timu, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya. Suasana duka terlihat menyelimuti rumah itu, semestinya kemarin pesta bahagia digelar di sana, orang-orang seharusnya berdatangan memberi selamat dan kado pernikahan kepada Fitri dan Suharnas. Keduanya akan menjadi raja dan ratu sehari dalam momen paling bahagia setiap insan.
Susana berubah, tak ada yang datang. Seribu surat undangan yang disebar hanya menjadi kenangan. Pelaminan yang telah disiapkan tak ada yang tempati, bagai ''menangis'' sendiri. Dekorasi hanya jadi hiasan, orang-orang duduk di luar dengan raut wajah murung. Semuanya bersedih, pesta bahagia itu urung terlaksana, karena Allah telah berkehendak lain.
Biasanya, pelaminan itu akan menjadi singgasana raja dan ratu sehari. Para tamu yang datang penuh ceria dengan pakai khusus untuk hari H. Mereka akan berebutan dan rela antrean untuk bisa berfoto. Demi momen bahagia bersama sang raja dan ratu. Tapi suasana itu tak ada, semua sudah diliputi duka mendalam. Beberapa keluarga dekat yang datang untuk melihat kondisi Fitri tak bisa menyembunyikan kesedihannya menatap pelaminan kosong. Pelaminan yang sepi sendiri.
Di dalam kamar, Fitri ditemani ibu kandungnya, Rajiati (sebelumnya tertulis Rajati-red) bersama dua saudaranya. Raut wajah sedih terlihat menyaksikan Fitri tertidur lemas di atas ranjang. Ranjang itu semestinya dipersiapkan untuk dia dan Suharnas selaku pengantin baru. Ia sama sekali tak bicara, wajahnya pucat.
Menurut sang ibu, Fitri sudah terbaring di ranjang itu sejak Rabu malam. ''Sudah dari tadi malam dia begini terus. Tadi pagi ada bangun sebentar habis itu tidur begini lagi dan tidak mau bicara. Makan juga nggak mau, tadi cuma air gula yang ada dia minum,'' kata Rajiati, saat Serambi yang masuk ke dalam kamar melihat Fitri ditemani anggota keluarganya.
Beberapa kali Serambi mencoba bertanya kepada Fitiri, namun tak ia tanggapi. Fitriani membisu, diam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi menanggung sedih tak terperikan. Namun, tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Air matanya seperti sudah kering, tak ada lagi linangan, meski ia begitu berat menanggung kesedihan. Fitri tak sanggup lagi menangis dan berkata-kata tentang cobaan yang mendera dirinya pada hari seharusnya ia paling bahagia.
''Kak Fitri, kak Fitriani, boleh kami bertanya sesuatu?,'' tanya Serambi pelan. Ia kemudian mengangguk sambil melihat dengan tatapan hampa. ''Kak Fitri, adakah doa yang mau Kakak panjatkan hari ini,'' tanya Serambi kembali.
Mendengar pertanyaan itu, sontak Fitri langsung menangis dan menutup mukanya dengan selimut. ''Kajeut Neuk beuh, bek le tatanyoeng sapeu. (Sudah Nak ya, jangan tanya lagi apa pun),'' kata salah seorang famili Fitri sambil mengusap pipi dan kepala Fitri. Serambi pun langsung ke luar dan menyudahi wawancara tersebut.
M Yunus, ayah Fitri mengatakan, saat ini dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan kesedihan anaknya. Ia tak menampik bahwa kesedihan yang mendera putri pertamanya itu sulit dipulihkan dalam waktu dekat. ''Hanya ada dua cara untuk menyembuhkan kesedihannya ini, pertama baca Alquran kedua shalat. Mungkin itu cara paling ampuh untuk menyembuhkan kesedihannya,'' ucap M Yunus.
Sama seperti keterangan Rajiati, istrinya kepada Serambi sebelumnya, bahwa rencana resepsi kemarin sudah dipersiapkan jauh jauh hari. Sedikitnya, 1.000 undangan telah dikabari untuk menghadiri hajatan putrinya kemarin. ''Ini kehendak Allah, ini cobaan bagi kami. Semoga di balik ini semua ada hikmahnya,'' pungkas M Yunus.
Kini Fitria harus menanggung beban dan berjuang menghapus luka mendalam di hatinya. Air mata duka bakal butuh waktu untuk membendungnya meski pelaminan akan dibongkar sebentar lagi. Harapan hidup bersama dengan Suharnas sudah sirna. Fitri hanya bisa pasrah atas musibah yang menjadi kehendak Ilahi. Mungkin Tuhan punya rencana lain.(serambi Indonesia)
| Editor | : | Bone |
| Kategori | : | Nasional |
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
Berita Pilihan
Internasional

Senin 20 Juli 2026, 06:13 WIB
Spanyol Juara Piala Dunia 2026 usai Tumbangkan Argentina di Final, Akhiri Penantian 16 Tahun
Minggu 08 Februari 2026
Timnas Indonesia Jadi Runner-up Piala Asia Futsal 2026, Kalah Adu Penalti Lawan Iran
Minggu 07 September 2025
Timnas Indonesia U-23 Wajib Kalahkan Korea Selatan Untuk lolos ke Putaran Final Piala Asia U-23 2025
Rabu 09 Juli 2025
PKB Gelar Puncak Harlah 23 Juli, Undang Prabowo hingga Ketum Partai
Politik

Rabu 15 Juli 2026, 19:28 WIB
Kodam XIX Tuanku Tambusai Luncurkan TMMD Ke-129, Wujudkan Infrastruktur dan Ketahanan Wilayah di Pelalawan
Selasa 14 Juli 2026
Diduga Lahan 40 Hektare Berpindah Tangan Secara Misterius, Forkorindo Desak APH Bongkar Dugaan Mafia Tanah di Kampung Dosan
Senin 29 Juni 2026
Bangunan Ornamen Wisma Sri Mahkota, Stand Bazar Bengkalis Jadi Perhatian di MTQ Riau ke- 44 Tahun 2026
Minggu 28 Juni 2026
Kapal Harimau Buas Meriahkan Pawai Perahu Hias MTQ Riau, Angkat Spirit Al-Qur'an dalam Perjuangan Sultan Siak
Nasional

Rabu 15 Juli 2026, 19:14 WIB
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Rabu 15 Juli 2026
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Senin 13 Juli 2026
Febrie Adriansyah Resmi Berstatus Tersangka di Tiga Kasus Korupsi, Kortas Tipidkor Limpahkan Penyidikan ke Kejagung
Jumat 10 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Gelar Laporan Awal, Satgasyon 132/Bima Sakti 2026 Dinyatakan Siap Operasi
Terpopuler
01
Minggu 07 Agustus 2016, 07:47 WIB
Ribuan Personel Keamanan Diterjunkan Kawal Kirab Api PON 2016 Selama 11 Har 02
Rabu 17 September 2014, 02:20 WIB
Pemkab Pelalawan Kembangkan Pembibitan Ikan Secara Modern 03
Sabtu 25 April 2015, 04:51 WIB
10 Pejabat Kedubes Asing Dipanggil ke Nusakambangan 04
Selasa 09 Februari 2016, 01:21 WIB
LSM Laporkan Satker SNVT.Dedi dan PPK, Rukun dan Irzami Ke KPK 05
Rabu 25 Juni 2014, 05:20 WIB
Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Klarifikasi Harta ke KPK 

Pekanbaru

Senin 20 Juli 2026, 20:14 WIB
Pangdam Kodam XIX Tuanku Tambusai Semarakkan Penutupan Festival Rakyat Nusantara 2026 Dengan Nobar Final Piala Dunia Bersama Masyarakat
Senin 20 Juli 2026
Pangdam Kodam XIX Tuanku Tambusai Semarakkan Penutupan Festival Rakyat Nusantara 2026 Dengan Nobar Final Piala Dunia Bersama Masyarakat
Minggu 19 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Dukung Green Policing, Riau Bhayangkara Run 2026 Satukan TNI, Polri dan Masyarakat
Jumat 17 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Perkuat Disiplin dan Jiwa Pengabdian Melalui Upacara Bendera Bulanan