Terkait Masalah RTRW
AL Azhar Ketua Dewan Pengurus Harian LAM Riau
LAM Riau Akan Ancam Boikot Pilpres Ke Pusat
Rabu 11 Juni 2014, 03:47 WIB
AL Azhar Ketua Dewan Pengurus Harian LAM Riau
PEKANBARU. Riaumadani.com - Provinsi Riau mengancam akan memboikot pemilihan presiden [pilpres] 9 Juli mendatang. Ini dilakukan, jika tidak terlihat etikad baik dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kehutanan RI terkait tidak disetujuinya rancangan tata ruang wilayah [RTRW] Riau.
Bahkan, perwakilan Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW yang terdiri dari Lembaga Adat Melayu Riau, akademisi, pemuka masyarakat dan lintas etnis juga berencana melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Langkah itu ditempuh karena dari hasil koordinasi tidak terlihat titik terang untuk kepastian pembagian kawasan yang terkendala regulasi tersebut.
Ketua Dewan Pengurus Harian [DPH] LAM Riau, Al azhar, Senin [9/6] di Pekanbaru menilai, sudah saatnya ada gelombang perlawanan terhadap sikap Kementerian Kehutanan yang tidak berpihak pada masyarakat Riau.
"Kalau memang tidak direspon, kita ancam boikot pilpres. Kita juga akan minta Presiden SBY untuk memberhentikan Menhut, jika RTRW Riau tidak kunjung disetujui," ungkap Al azhar yang juga kecewa dengan sikap pemerintah pusat.
Hal senada disampaikan pemuka masyarakat Riau yang juga Ketua Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW Prof Dr Yusmar Yusuf. Ia menilai gerakan itu merupakan inisiasi sekelompok anggota masyarakat Riau yang peduli dan prihatin dengan proses perencanaan dan implementasi pembangunan Riau.
Ia menilai, hampir seluruh pembangunan di Riau terkendala RTRW yang tak kunjung tuntas. Dengan pertimbangan itu, perhimpunan lintas organisasi dan akademisi itu melakukan pertemuan dengan Menteri Kehutanan RI. "Setelah bertemu dan berdialog kesimpulan ringkas. Di mana, Menteri Kehutanan tidak berkenan menandatangani RTRW Riau tanpa alasan substantif yang jelas," terangnya.
Dengan pertimbangan itu, tim gabungan tersebut berpendapat, masyarakat Riau perlu digerakkan untuk melakukan perlawanan kepada Menteri Kehutanan dan melaporkannya ke Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain itu, tim Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW terdiri dari Prof Alaiddin Koto dari akademisi dan etnis Minang Kabau, Viator Butar-Butar mewakili etnis Batak. Selain itu, Suhendro dari etnis Jawa, Tang Antoni dari Tionghoa, Ketua DPH LAM Riau, Al azhar dan Syafhendry Rusli, Hasan Hajar dari NU, Syekh Ruslan dan Syekh Said Syafrudin.
Viator Butar-Butar menilai gerakan ini merupakan suara rakyat. Pasalnya, RTRW merupakan kerangka dasar pembangunan daerah. Kekhawatiran bersama itu mencuat, karena memang tidak terlihat langkah konkret dari Kementerian Kehutanan RI.
"Kalau tidak disetujui RTRW, kantor gubernur sekarang saja masih masuk kawasan hutan. Beliau [Menhut, red] mengatakan takut bermasalah. Padahal, hasil tim terpadu yang dibentuk sudah tuntas. Tapi belum juga ditandatangani sejak 18 bulan lalu. Ini yang kita pertanyakan," imbuhnya.
Guru Besar Universitas Islam Negeri. [UIN] Suska Prof Alaidin Koto menili Menhut Zulkifli Hasan telah membohongi masyarakat Riau dengan mengatakan tidak bisa lagi menandatangani RTRW Provinsi Riau. Bahkan, alasan yang disampaikan juga dinilai tidak tepat.
"Kita telah mendatangi Menhut, kita sudah berbicara menyampaikan persoalan RTRW. Tapi Menhut justru bilang pemerintahan sudah demisioner. Karena Presiden SBY sudah menginstruksikan kabinet untuk tidak mengambil kebijakan strategis, semenatra ini kan sudah lama," ungkapnya.
Menurut Alaidin, setelah mendapat paparan dari Menhut terkait RTRW di Riau. Alaidin mengirimkan pesan singkat ke mantan Menteri Koordiantor Ekonomi Hatta Rajasa yang notabene merupakan senior dan calon Wakil Presiden dari Partai Amanat Nasional [PAN]. "Pak Hatta mengatakan, tidak ada yang namanya demisioner dalam kabinet. Saya melihat Menhut memang tidak memiliki niat baik terhadap Riau khususnya mengenai RTRW ini,"tegasnya. **
Bahkan, perwakilan Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW yang terdiri dari Lembaga Adat Melayu Riau, akademisi, pemuka masyarakat dan lintas etnis juga berencana melakukan aksi demonstrasi besar-besaran. Langkah itu ditempuh karena dari hasil koordinasi tidak terlihat titik terang untuk kepastian pembagian kawasan yang terkendala regulasi tersebut.
Ketua Dewan Pengurus Harian [DPH] LAM Riau, Al azhar, Senin [9/6] di Pekanbaru menilai, sudah saatnya ada gelombang perlawanan terhadap sikap Kementerian Kehutanan yang tidak berpihak pada masyarakat Riau.
"Kalau memang tidak direspon, kita ancam boikot pilpres. Kita juga akan minta Presiden SBY untuk memberhentikan Menhut, jika RTRW Riau tidak kunjung disetujui," ungkap Al azhar yang juga kecewa dengan sikap pemerintah pusat.
Hal senada disampaikan pemuka masyarakat Riau yang juga Ketua Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW Prof Dr Yusmar Yusuf. Ia menilai gerakan itu merupakan inisiasi sekelompok anggota masyarakat Riau yang peduli dan prihatin dengan proses perencanaan dan implementasi pembangunan Riau.
Ia menilai, hampir seluruh pembangunan di Riau terkendala RTRW yang tak kunjung tuntas. Dengan pertimbangan itu, perhimpunan lintas organisasi dan akademisi itu melakukan pertemuan dengan Menteri Kehutanan RI. "Setelah bertemu dan berdialog kesimpulan ringkas. Di mana, Menteri Kehutanan tidak berkenan menandatangani RTRW Riau tanpa alasan substantif yang jelas," terangnya.
Dengan pertimbangan itu, tim gabungan tersebut berpendapat, masyarakat Riau perlu digerakkan untuk melakukan perlawanan kepada Menteri Kehutanan dan melaporkannya ke Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain itu, tim Gerakan Rakyat Riau untuk RTRW terdiri dari Prof Alaiddin Koto dari akademisi dan etnis Minang Kabau, Viator Butar-Butar mewakili etnis Batak. Selain itu, Suhendro dari etnis Jawa, Tang Antoni dari Tionghoa, Ketua DPH LAM Riau, Al azhar dan Syafhendry Rusli, Hasan Hajar dari NU, Syekh Ruslan dan Syekh Said Syafrudin.
Viator Butar-Butar menilai gerakan ini merupakan suara rakyat. Pasalnya, RTRW merupakan kerangka dasar pembangunan daerah. Kekhawatiran bersama itu mencuat, karena memang tidak terlihat langkah konkret dari Kementerian Kehutanan RI.
"Kalau tidak disetujui RTRW, kantor gubernur sekarang saja masih masuk kawasan hutan. Beliau [Menhut, red] mengatakan takut bermasalah. Padahal, hasil tim terpadu yang dibentuk sudah tuntas. Tapi belum juga ditandatangani sejak 18 bulan lalu. Ini yang kita pertanyakan," imbuhnya.
Guru Besar Universitas Islam Negeri. [UIN] Suska Prof Alaidin Koto menili Menhut Zulkifli Hasan telah membohongi masyarakat Riau dengan mengatakan tidak bisa lagi menandatangani RTRW Provinsi Riau. Bahkan, alasan yang disampaikan juga dinilai tidak tepat.
"Kita telah mendatangi Menhut, kita sudah berbicara menyampaikan persoalan RTRW. Tapi Menhut justru bilang pemerintahan sudah demisioner. Karena Presiden SBY sudah menginstruksikan kabinet untuk tidak mengambil kebijakan strategis, semenatra ini kan sudah lama," ungkapnya.
Menurut Alaidin, setelah mendapat paparan dari Menhut terkait RTRW di Riau. Alaidin mengirimkan pesan singkat ke mantan Menteri Koordiantor Ekonomi Hatta Rajasa yang notabene merupakan senior dan calon Wakil Presiden dari Partai Amanat Nasional [PAN]. "Pak Hatta mengatakan, tidak ada yang namanya demisioner dalam kabinet. Saya melihat Menhut memang tidak memiliki niat baik terhadap Riau khususnya mengenai RTRW ini,"tegasnya. **
| Editor | : | Sumber : Tis/GR |
| Kategori | : | Budaya |
Untuk saran dan pemberian informasi kepada Riaumadani.com, silakan kontak ke email: redaksi Riaumadani.com
Komentar Anda
Berita Terkait
Berita Pilihan
Internasional

Minggu 08 Februari 2026, 08:28 WIB
Timnas Indonesia Jadi Runner-up Piala Asia Futsal 2026, Kalah Adu Penalti Lawan Iran
Minggu 07 September 2025
Timnas Indonesia U-23 Wajib Kalahkan Korea Selatan Untuk lolos ke Putaran Final Piala Asia U-23 2025
Rabu 09 Juli 2025
PKB Gelar Puncak Harlah 23 Juli, Undang Prabowo hingga Ketum Partai
Rabu 11 Juni 2025
Arab Saudi Tegur Indonesia soal Data Kesehatan Jemaah, Kuota Haji 2026 Terancam Dipotong
Politik

Rabu 15 Juli 2026, 19:28 WIB
Kodam XIX Tuanku Tambusai Luncurkan TMMD Ke-129, Wujudkan Infrastruktur dan Ketahanan Wilayah di Pelalawan
Selasa 14 Juli 2026
Diduga Lahan 40 Hektare Berpindah Tangan Secara Misterius, Forkorindo Desak APH Bongkar Dugaan Mafia Tanah di Kampung Dosan
Senin 29 Juni 2026
Bangunan Ornamen Wisma Sri Mahkota, Stand Bazar Bengkalis Jadi Perhatian di MTQ Riau ke- 44 Tahun 2026
Minggu 28 Juni 2026
Kapal Harimau Buas Meriahkan Pawai Perahu Hias MTQ Riau, Angkat Spirit Al-Qur'an dalam Perjuangan Sultan Siak
Nasional

Rabu 15 Juli 2026, 19:14 WIB
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Rabu 15 Juli 2026
Massa Tergabung Dalam Koalisi Masyarakat Sipil MBG Watch Kepung Kejagung, Tuntut Bubarkan MBG Bubarkan BGN Bubarkan
Senin 13 Juli 2026
Febrie Adriansyah Resmi Berstatus Tersangka di Tiga Kasus Korupsi, Kortas Tipidkor Limpahkan Penyidikan ke Kejagung
Jumat 10 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Gelar Laporan Awal, Satgasyon 132/Bima Sakti 2026 Dinyatakan Siap Operasi
Terpopuler
01
Minggu 07 Agustus 2016, 07:47 WIB
Ribuan Personel Keamanan Diterjunkan Kawal Kirab Api PON 2016 Selama 11 Har 02
Rabu 17 September 2014, 02:20 WIB
Pemkab Pelalawan Kembangkan Pembibitan Ikan Secara Modern 03
Sabtu 25 April 2015, 04:51 WIB
10 Pejabat Kedubes Asing Dipanggil ke Nusakambangan 04
Selasa 09 Februari 2016, 01:21 WIB
LSM Laporkan Satker SNVT.Dedi dan PPK, Rukun dan Irzami Ke KPK 05
Rabu 25 Juni 2014, 05:20 WIB
Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Klarifikasi Harta ke KPK 

Pekanbaru

Minggu 19 Juli 2026, 15:35 WIB
Kodam XIX Tuanku Tambusai Dukung Green Policing, Riau Bhayangkara Run 2026 Satukan TNI, Polri dan Masyarakat
Minggu 19 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Dukung Green Policing, Riau Bhayangkara Run 2026 Satukan TNI, Polri dan Masyarakat
Jumat 17 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Perkuat Disiplin dan Jiwa Pengabdian Melalui Upacara Bendera Bulanan
Rabu 15 Juli 2026
Kodam XIX Tuanku Tambusai Gaungkan Semangat Kebersamaan Melalui Festival Rakyat 2026