Sabtu, 20 Juli 2024

Breaking News

  • Pasangan KBS Terima Surat Rekomendasi dari Ketua Umum Demokrat AHY   ●   
  • Rokan Hulu Raih Juara 1 Dalam Lomba Harganas Ke 31 Tahun 2024   ●   
  • Isu Politik Pergeseran Dukungan Partai Menuju Pilkada Riau 2024, Mungkinkah Tiga Pasang   ●   
  • Prosesi Menuju Arak Iring Raja Baru Kerajaan Luhak IV Koto, Permaisuri Kerajaan Resmi Pengandaman   ●   
  • BPD Desa Meskom Gelar Rapat Bersama Warga Penerima Bantuan Rehab Rumah Layak Huni Dana Bermasa   ●   
Rempang Ricuh karena Pemerintah Lupa, Kampung Tua tak Masuk Kawasan Investasi PT MEG
Jumat 15 September 2023, 19:28 WIB

Syuzairi: Rempang Ricuh karena Pemerintah Lupa, Kampung Tua tak Masuk Kawasan Investasi PT MEG


RIAUMADANI. COM, JAKARTA – Kasus bentrok antara warga kampung tua di Rempang Galang dengan BP Batam, terjadi karena di SK Walikota Batam nomor 105 tahun 2004 kawasan kampung tua tidak termasuk dalam rencana lahan investasi PT Megah Elok Graha (MEG) milik taipan Tomy Winata.

Menurut mantan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMRAH Batam, Prof. Dr. M. Syuzairi, M.Si., SK 105 tahun 2004 dipakai sebagai pengganti skema keterbatasan pihak Otorita Batam dalam mengelola lahan di Rempang Galang.

Karena pada saat rencana investasi PT MEG di Rempang Galang pihak Otorita Batam belum memiliki kewenangan atas lahan disana, maka dipakailah SK Walikota Batam untuk mengatur posisi hukum kampung tua.

“Tetapi di dalam SK itu ditegaskan, bahwa kampung tua bersama fasilitas sosial dan umumnya tidak termasuk dalam bagian rencana investasi PT MEG. Oleh sebab itu, wajar jika mereka menolak dipaksa untuk relokasi,” ujar Syuzairi, yang juga mantan pejabat Pemko Batam melalui saluran telepon selulernya, Selasa (12/9/2023).

Tetapi sekarang pihak BP Batam memaksa masyarakat kampung tua untuk keluar dari kawasan eco city milik Taipan Tomy Winata, kata Syuzairi berarti sudah terjadi kesalahan besar.

Menurut Syuzairi, saat Otorita Batam didirikan di Batam masih menggunakan Keppres 41 tahun 1973 dengan kewenangan hak pengelolaan lahan yang ada di Batam saat ini.

Atas kebutuhan lahan yang lebih luas untuk pengembangan kawasan industri maka Pemerintah menerbitkan Keppres 28 tahun 1992 dengan memasukan kawasan Rempang Galang dan sekitarnya sebagai wilayah tambahan Otorita Batam.

Tetapi Keppres 28 tahun 1992 bukan mutatis dan mutandis seperti pengelolaan kawasan di daerah Batam, namun harus diatur dalam peraturan Menteri Agraria.

Atas kebutuhan itu, maka keluarlah Peraturan Menteri Agraria nomor 9/VIII tahun 1993 tentang kesediaan hak mengelola lahan di Rempang dan Galang kepada pihak otorita Batam, dengan syarat sesuai dengan Kepmendagri 77 yang merupakan turunan Keppres 41 tahun 1973 dimana tanah, tanaman wajib diganti rugi oleh pihak Otorita Batam.

Setelah itu baru diajukan kepada BPN untuk mendapatkan sertifikat hak pengelolaan lahan. Setelah mendapatkan hak ini barulah Otorita Batam memiliki hak atas tanah Rempang Galang secara keseluruhan.

Tetapi sampai hari ini, pihak Otorita Batam masih belum memiliki sertifikat hak pengelolaan lahan di Rempang Galang. Yang baru keluar dari Kementerian Agraria adalah SK HPL Bersyarat untuk hanya beberapa ratus hektar lahan saja di Rempang Galang. Sebab kawasan hutan tidak boleh dikeluarkan HPL.

Jadi, dalam kaitan investasi di Rempang Galang saat ini seharusnya belum boleh ada kegiatan. Sebab MoU antara BP Batam dan PT MEG di Agraria beberapa waktu lalu baru bersifat kesepakatan belum bisa bersifat eksekusi. Namun harus dilakukan persyaratan clear and clean dulu terhadap lahan di Rempang Galang.

Nah, kaitannya pada saat PT MEG mengajukan ijin pembukaan Kawasan Wisata Terpadu Eksklusif (KWTE) di Kawasan Rempang Galang, Pemerintah Kota Batam menerbitkan SK 105 tahun 2004 tentang Fasus dan Fasos serta Kampung Tua, tidak termasuk dalam rencana lahan investasi MEG.

Artinya dia enclave, dikeluarkan. Itu yang menjadi dasar bagi masyarakat untuk bertahan. Dan secara turun temurun masyarakat dilahirkan disana, otomatis dia menjadi bagian dari tempat lahirnya.

Belum lagi ada pesan pesan dari warisan orang tuanya, neneknya supaya kampungnya tetap dijaga. Biasanya orang Melayu, atau suku lain jika menerima amanah itu selalu menjaga amanah itu. Itulah dasarnya mereka bertahan.

Kenapa masalah Rempang ini berlarut karena pemerintah tidak mendengarkan aspirasi warga. Mereka asyik menawarkan relokasi dengan janji akan diberikan lahan pengganti 500 M3, lalu dibangun rumah seluas 45 M3 dengan anggaran Rp120 juta.

Sementara rumahnya belum ada, masyarakat sudah diminta, dalam waktu dekat, harus keluar dan tinggal di rusun Pemko dan Otorita, dan ditanggung biaya hidupnya Rp1 juta lebih dalam sebulan. Jadi Otomatis masyarakat menolak.

“Jadi solusi yang harus diambil adalah pemerintah tetap mempertahankan status kampung tua, tanpa menghambat proses investasi yang telah dijanjikan,” ujarnya.

Apalagi luas lahan kampung tua itu hanya 1000 hektar saja, tidak cukup 10 persen dari total luas lahan di Rempang Galang yang mencapai 17.000 hektar lebih.

Kenapa tidak berpikir untuk menschedule ulang. Artinya carilah lahan kosong yang tidak menyasar kampung kampung tua itu.

Atau solusi lainnya : lahan kampung tua yang sudah ada SK Walikotanya diukur dulu.

Kemudian harus ada kajian kalau lokasi kampung tua itu berdampak langsung terhadap kawasan industri, maka diupayakan dipindahkan tidak jauh dari lokasi kawasan industri, sehingga masyarakatnya bisa hidup dari aktifitas diluar industri itu. Misal menyewakan rumah untuk kosan pekerja dan berjualan makanan.

Sebab kawasan industri yang berdampak lingkungan kan wajib dipagari, tidak boleh di alam terbuka,

SIMAK JUGA : Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi Positif Corona
Sementara kampung tua yang tidak terdampak diusahakan menjadi kampung wisata, kampung percontohan.

Konsep ini bersifat simulajadi, silahkan berinvestasi tetapi masyarakatnya tidak terpinggirkan.

Terhadap objek kegiatan masyarakat seperti berkebun dan pantai, jika tidak terdampak maka menjadi mitra perusahaan, dimana perusahaan bisa menjadi bapak angkat.

Mengapa perusahaan tetap memaksakan masyarakat keluar, karena mereka ingin melaksanakan konsep eco city itu secara total dan tidak mau melibatkan masyarakat. Ini kan konsepnya salah.

Contoh Batam saja, membangun kawasan industri tetap bertetangga dengan masyarakat, dan tidak menggeser kampung kampung lama. Misal, Tanjung Uma, Batu Besar, dan lainnya. Sekarang mengapa 16 titik kampung tua itu harus direlokasi, kecuali perkampungan yang tidak padat penduduk bisalah direlokasi ke tempat lain.

Tetapi perkampungan tua yang ada sebaiknya dipermanenkan dengan anggaran relokasi sehingga sesuai pula dengan konsep eco city yang mau dibuat.

Tetapi Keppres 28 tahun 1992 bukan berarti mutatis dan mutandis pengelolaan kawasan seperti daerah Batam, namun harus diatur dalam peraturan Menteri Agraria

Keluarlah Peraturan Menteri Agraria 9/VIII tahun 1993 kesediaan hak mengelola lahan kepada pihak otorita Batam, dengan syarat sesuai dengan Kepmendagri 77 yang merupakan turunan Keppres 41 tahun 1973 dimana tanah, tanaman wajib diganti rugi.

Setelah itu baru diajukan kepada BPN untuk mendapatkan sertifkat hak pengelolaan lahan

Setelah mendapatkan hak ini barulah Otorita Batam memiliki hak atas tanah Rempang Galang

Bahkan sampai saat ini pihak Otorita Batam masih belum memiliki sertifikat hak pengelolaan lahan di Rempang Galang

Yang baru keluar dari Kementerian Agraria adalah SK HPL Bersyarat untuk hanya beberapa ratus hektar lahan saja. Sebab kawasan hutan tidak boleh dikeluarkan HPL

Dalam kaitan investasi di Rempang Galang saat ini seharusnya belum boleh ada kegiatan

Jadi MoU antara BP Batam dan PT MEG di Agraria kemarin baru bersifat MoU belum bisa bersifat eksekusi

Harus dilakukan persyaratan clear and clean dulu terhadap lahan

SK 105 tahun 2004 tentang pasus, pasos dan kampung tua tidak termasuk dalam rencana lahan investasi MEG

Artinya dia enclave, dikeluarkan. Itu yang menjadi dasar bagi masyarakat untuk bertahan

Dan secara turun temurun masyarakat dilahirkan disana, otomatis dia menjadi bagian dari tempat lahirnya.

Belum lagi ada pesan pesan dari warisan orang tuanya, neneknya supaya kampungnya tetap dijaga

Biasanya orang Melayu, atau suku lain jika menerima amanah itu selalu menjaga amanah itu. Itulah dasarnya mereka bertahan.

“Kenapa berlarut? karena pemerintah tidak mendengarkan aspirasi warga. Mereka asyik menawarkan relokasi dengan janji akan diberikan lahan pengganti 500 M3, lalu dibangun rumah seluas 45 M3 dengan anggaran Rp120 juta. Sementara rumahnya belum ada juga. Tetapi masyarakat dalam waktu dekat harus keluar dan tinggal di rusun Pemko dan Otorita, dan ditanggung biaya hidupnya Rp1 juta lebih dalam sebulan.” Paparnya.

“Makanya otomatis saja masyarakat menolak. Jadi solusi yang harus diambil adalah pemerintah tetap mempertahankan status kampung tua, tanpa menghambat proses investasi yang telah dijanjikan.” katanya lagi.

Apalagi luas lahan kampung tua itu hanya 1000 hektar saja, tidak cukup 10 persen dari total luas lahan di Rempang Galang yang mencapai 17.000 hektar lebih.

Kenapa tidak berpikir untuk menschedule ulang. Artinya carilah lahan kosong yang tidak menyasar kampung kampung tua itu

Atau solusi lainnya : lahan kampung tua yang sudah ada SK Walikotanya diukur dulu.

Kemudian harus ada kajian kalau lokasi kampung tua itu berdampak langsung terhadap kawasan industri maka diupayakan dipindahkan tidak jauh dari lokasi kawasan industri, sehingga masyarakatnya bisa hidup dari aktifitas diluar industri itu. Misal menyewakan rumah untuk kosan pekerja,

Sebab kawasan industri yang berdampak lingkungan kan wajib dipagari, tidak boleh di alam terbuka. Sementara kampung tua yang tidak terdampak diusahakan menjadi kampung wisata, kampung percontohan.

Konsep ini bersifat simulajadi, silahkan berinvestasi tetapi masyarakatnya tidak terpinggirkan. Terhadap objek kegiatan masyarakat seperti berkebun dan pantai, jika tidak terdampak maka menjadi mitra perusahaan, dimana perusahaan bisa menjadi bapak angkat

Mengapa perusahaan tetap memaksakan masyarakat keluar, karena mereka ingin melaksanakan konsep eco city itu secara total dan tidak mau melibatkan masyarakat. Ini kan konsepnya salah.

Contoh Batam saja, investor membangun kawasan industri tetap bertetangga dengan masyarakat, dan tidak menggeser kampung kampung lama. Misal, Tanjung Uma, Batu Besar,

“Dan mengapa 16 titik kampung tua itu harus direlokasi, kecuali perkampungan yang tidak padat penduduk bisalah direlokasi ke tempat lain. Tetapi perkampungan tua yang ada sebaiknya dipermanenkan dengan anggaran relokasi sehingga sesuai pula dengan konsep eco city yang mau dibuat PT MEG,” pungkas Syuzairi. (*)

 




Editor : Tis
Kategori : Nasional
Untuk saran dan pemberian informasi kepada katariau.com, silakan kontak ke email: redaksi riaumadain.com
Komentar Anda
Berita Terkait
 
 
Copyrights © 2022 All Rights Reserved by Riaumadani.com
Scroll to top